Monday, 29 February 2016

22-05-2014

22-05-2014

Di sudut kota bersih, Bandar tun razak di negeri jiran saya tuliskan sebuah kisah. Kisah dimana saya menata hidup penuh makna dan kesabaran. Saya tidak mengerti kenapa saya dipertemukan. Saya pening mau artikan sebuah jalan.

Dengan modal sebuah senyuman, dari bibir yang ikhlas menyunggingkan. Dari mata yang sederhana, saya tatap kelembutannya. Saya pun tak boleh berkata apa.

22-05-2014 itu adalah hari kamis. Saya pun lebih bingung lagi. Saya coba artikan satu persatu hingga ejaan itu melahirkan sebuah rasa yang namanya "KERINDUAN". Bila saya teringat hari itu, saya tersenyum saya gembira. Namun hati tersayat rapi sebab rindu yang amat dalam tengah bersemedi.

Waktupun terkikis dengan cepat, sangat cepat. Janji-janji tersusun rapi. Layaknya tersimpan dalam peti besi suci. Hingga salah satu dari kami atau bahkan keduanya mulai merindukan janji-janji itu.

Kuncinya hilang entah kemana. Atau kami yang lupa diletak dimana. Atau memang kunci itu tak pernah ada saya sendiri kurang  memahaminya.

Saya ingin sekali melukiskan segalanya. Menuliskan kembali kisah waktu yang telah terbuang dan tidak akan terlupakan. Tapi siapa yang bisa membantunya? Tuhan masih belum memberikan jawabannya.

Ada yang mengatakan saya melakukan sebuah kesalahan. Siapa-siapa belum tentu selalu benar. Keindahan bukan berarti kebahagiaan, kebahagiaan belum tentu kebenaran, dan kebenaran belum pasti kesempurnaan. Kita belum tau setan atau tuhankah yang berbisik!?

Salah satu dari kami pasti ada yang mengerti.
Dunia berubah karna manusia, manusia berubah karna manusia. Siapa yang mengerti lebih dulu, dialah yang dituntut untuk bertindak saat ini.

Tuhan tidak pernah tidur dan tidak akan tidur. Tuhan tidak buta dan tidak akan pernah buta. Setitik pertolongan pasti akan diberikan pada hambanya.

Kalau bukan hari ini mungkin lusa tuhan pasti wujudkannya.
" saya akan lakukan yang terbaik untuk kamu "
Saya akan selalu ingat ayat itu sampai bila-bila mase

Yogyakarta, Ahad 28,2016

Post a Comment